beberapa checkpoint kisah perjalanan untuk mungkin suatu saat bisa dikenang
9 Januari 2025
16 Oktober 2020
Surat Cinta untuk Anak-anak Ajaib Nomer Tujuh
Tujuh, ya, angkatan ketujuh semenjak kuartal keempat 2012 dengan angkatan 51. Perjalanan panjang meski belum sepanjang pasukan lain dengan track record yang jauh lebih luar biasa dari kita di Tonti Bhawara.
Pesan pertama dari pelatih mas muk dulu ketika menghantarkan ke SMP 8 adalah ‘Muk iki mbiyen sekolah kerep juara’. Di tahun 2012 dulu hanya tahu di kelas SMP ya beberapa sekolah seperti SMP 9, SMP 5, dan SMP 2 saja yang mendominasi kejuaraan baris-berbaris. SMP 8 dimana? SMP 8 masih ada di papan tengah, urutan belasan dari dua puluhan pleton putri dan urutan 7/8 dari dua belasan pleton putra.
Dan perjalanan panjangnya baca sendiri di Highlights IG mas muk perjalanan masing-masing angkatan, gatau 57 bakalan dibikinin atau enggak nanti, hehe.Masuk ke tahun 2017, angkatan baru hadir disambut PAB, acara baris-berbaris seleksi anggota pasukan tonti bhawara. Dipanitiai kakak-kakak Patwa 56 akhirnya terseleksi Patwa 57 yang bakalan jadi pengganti ujung tombak pasukan baris SMP 8 setelah Patwa 55 menuntaskan tugasnya tahun itu dan segera digantikan Patwa 56, kisah saingannya 55-56 cukup seru di 2017.
Karakteristik Patwa 57 ini mirip sama Patwa 53, terutama di komandannya, komandan putra nyempluk, komandan putri mungil, di Patwa 53 ada Prastowo sama Arra, di Patwa 57 ada Fata sama Citra. Di tahun 2017 ini Patwa 57 debut lomba di LBB BHA, lomba baris tingkat SMP di SMP 8, Patwa 57 main sebagai wild card, ga diitung poin kejuaraannya, buat pemanasan ke LBB PPI Kota 2017. Balaikota 2017 kala itu jadi saksi nangis-nangisnya Patwa 55 yang putranya ga lolos, dan pleton putrinya yang habis-habisan akhirnya dapet tiket ke LBB DIY yang dua-duanya dapet nomer 3. Patwa 57 jelas masih belum bener barisnya, bahkan foto lombanya pun mirip sama Patwa 53, seragam osis, topi di kelas 7.
2018 jadi tahunnya Patwa 56, baru di akhir 2018 di LBB PPI Kota yang mulai pindah ke Stadion Mandala Krida, Patwa 57 mulai nemu ritmenya sendiri. Juara 3 LBB PPI Kota melewati Patwa 56 Putra kakaknya yang jadi awkward moment saat itu, sama seperti 2019 yang lalu.
Perjalanan menuju PPI Kota 2018 dilalui naik turun, pertama kali lomba di Stadion Mandala Krida yang super panas ikutan drop kayak Patwa 56 Putra, di tengah tahun awal 2018 ini jadi masa belajar Patwa 57 yang masih banyak salah dan perbaikan ini-itu. Masuk separo akhir 2018 nambah tantangan buat Patwa 57, 2 anggota putra, Andika sama Aqeel dan 5 anggota putri, Angel-Bella-Lika-Sasa-Kayla harus lulus duluan bareng Patwa 56 karena mereka bertujuh masuk ke kelas SKS, akselerasi, lulus duluan. Dan cita-cita Patwa 57 harus terwujud nropi barengan dengan semua anggotanya yang ini.
Alhamdulillah kejadian terwujud, Patwa 57 Putri nropi nomer 5, Patwa 57 Putra nomer 3. Tahun 2018 ini LBB PPI tropi diberikan untuk 5 besar, iya ga ada tambahan nilai buat Patwa 57 Putri tapi setidaknya sekeluarga ini berhasil nropi bareng sebelum ditinggal lulus duluan. Di tahun 2018 ini mas kevin join buat handle Patwa 57 Putri
Masuk ke tahun 2019 pleton putra masih bisa bertahan dengan 32 anggotanya tapi pleton putri harus nyari anggota baru. Awalnya dua orang suka rela join ke Patwa 57, dhila dan filza, tapi belakangan ternyata banyak yang minat, alhasil seleksi ulang untuk 5 anggota baru yang akhirnya dipilih dhila, filza, rani, nadira dan naira. Lengkaplah lagi Patwa 57. Setelah hasil nomer 4 di LBB DIY 2018, Patwa 57 Putra mulai beraksi di tahun 2019.
2019 awal masih sulit buat Patwa 57 Putri, masih butuh adaptasi dengan anggota baru. berbeda dengan Patwa 57 Putra langsung gas juara sana-sini. Gausah diulang satu-satu juaranya ntar lama. Momen sedih gantian ke Patwa 57 Putra, semenjak LBB Garuda Mache sudah mulai didahului Patwa 58 Putra, puncaknya di LBB PPI Kota 2019 di JEC harus menerima kenyataan Patwa 58 Putra main lebih manis dibanding dirinya. Patwa 57 Putra tetap nropi di nomer 5, Patwa 57 Putri membawa asa pasukan Putra dengan mewakili Kota Jogja ke DIY dengan status Juara 1 Kota. Alhamdulillah diupgrade di LBB DIY jadi juara 3 Putri.
Lika-liku Patwa 57 ini unik, ditinggal kawannya lulus duluan, mencari anggota baru, kompakin lagi. Begitu masuk 2019, pleton putra menunjukkan dirinya yang sebenarnya, hanya sekali juara 3 di LBB Diyata, sisanya juara 1, bahkan sampe bikin ngambek pasukan putri di LBB Prayata walau akhirnya minta maaf dan baikan lagi, momen sweet nya 57 ini nih.
Ada di bawah bayang-bayang superiornya Patwa 56 naikin motivasi Patwa 57 yang nyatanya juga bisa berprestasi bahkan raihan tropinya melewati Patwa 56 dengan 4 kali juara umum di LBB Platinum, LBB Prayata, LBB Garuda dan LBB MP PPI Kota. Salah satu titik puncak idaman seorang mas muk, akhirnya sampai di tujuan Juara Umum LBB PPI Kota. Perjalanan semenjak 2012 yang hanya mendamba sebuah tropi berapapun juara itu, kemudian beralih semakin yakin gamau dipanggil hanya di juara 3 sampai akhirnya Juara Umum, untuk pertama kalinya di LBB PPI Kota.
Surat cinta yang kepanjangan ceritanya ya, gapapa buat kalian biar tetep ingat jalan kalian. Selamat atas kelulusannya atau belum luus sih? Padahal sebenernya ini mas muk kasih ke kalian sebelum ujian, karena corona jadi buyar semua ga ada update kapan kalian ujian sampe akhirnya UN dibatalkan. Terima kasih super carenya, yang menunjukkan kalian juara duluan sebelum LBB PPI Kota 2018 pas kalian bagiin susu pake ucapan semangat ke kakak-kakak 56. Bahkan ketika kejadian rame-rame di 58 kemarin kalian yang pertama teriak ‘mas kasihan kok digituin’. Beneranlah kalian angkatan paling care, ke kakaknya berani nyemangati, ke adik-adiknya beneran dijagain.
Setelah ini kalian masuk SMA, dunia yang benar-benar beda dari SMP, jauh lebih rumit dan ruwet tapi bonusnya jauh lebih banyak, kata orang-orang sih masa-masa sekolah paling epic ya masa-masa SMA, ada apa ya tunggu aja besok. Yang pasti dimanapun kalian sekolah besok SMA, jangan mau cuma jadi anak biasa, berani inisiatif, jadi leader jangan cuma ngikut-ngikut aja, gaboleh, harus jadi orang keren di SMA besok. Mau join tonti lagi silakan, enggak pun ga masalah yang pasti tetap harus berprestasi. Patwa masih selalu ada di lapangan upacara, dateng aja kalo kangen, besok kalo udah aman lagi kita agendakan kumpul-kumpul itung-itung perpisahan ya. Udah gitu aja, lama ga ketemu kalian, terakhir di LBB Smada kemarin yang adik kelas kalian masih belum maksimal hasilnya, tetap support adik-adik yaa, energi care kalian itu besar tolong dibagi, ini sejatinya keluarga besar tonti bhawara, saling care dan saling menyemangati. Terima kasih andika, aqeel, angel, bella, lika, kayla, dan sasa yang berhasil bareng-bareng nropi sebelum lulus duluan tahun lalu.
Tetep sehat kalian semua, ditunggu kabar baiknya lanjut sekolah dimana, terima kasih udah bikin perjalanan mas muk bareng patwa makin asik. Love you all.
Mas Muk kalian
Surat Cinta untuk Anak-anak Ajaib Nomer Enam dan Beberapa Nomer Tujuh Yang Mendahului
Surat Cinta untuk Anak-anak Ajaib Nomer Enam dan Beberapa Nomer Tujuh Yang Mendahului
Surat cinta kelima, iya dulu awalnya gara-gara Mas Muk pamit ga bisa nemenin ke LBB DIY pertama Tonti Bhawara (pas dipegang Mas Adit sama Mas Muk) jadi deh nulis surat cinta buat mereka dan keterusan sampai tiap mau UN selalu bikin surat cinta buat kalian. Surat cinta buat calon ibuk? Tenang udah pasti ada, kalian tahunya besok udah ada Ibuknya aja ya
Anak-anak ajaib nomer enam, Pasukan Tonti Bhawara angkatan keenam tim pelatih, 56. Beberapa nomer tujuh mereka spesial bertujuh masuk kelas khusus sks yang cuma ada di angkatan 57 aja, mereka barengan kakak-kakak 56 lulus tahun ini.
Awal ketemu inilah pasukan dengan format baru di Tonti Bhawara, 2 pleton saja, satu putra-satu putri tapi masih 36 anggota. Putra didahului jadi 35 anak baru ditinggal satu temen yang yang pindah ke Wonosari yang baru ketemu lagi kemarin LBB DIY 2018, Alwin. Putri juga ditinggal satu temen yang pindah ke Makassar, Nadhira.
Enam belas tropi sepanjang 2017 – 2018 pasti jadi dongeng buat adik-adik kalian kelak. Belum bisa debut di LBB PPI Kota 2016 karena masih kepentok pasukan kakak-kakak kelas yang formatnya 2 putri dan 1 putra akhirnya jadilah debut lomba di LBB Platinum SMA 8 2017 yang jadi saksi Juara Umum kakak-kakak 55. Keliatan deh malu-malunya kalian ikutan teriak-teriak Juara Umum di belakang kakak-kakak.
Pasukan yang Prnya terselesaikan, lihat rekap LBB PPI Kota 2017 takjub kalian bisa di atas kakak-kakak 55 tapi cuma kalah di bagian BELOK, Pasukan Putri ngedrift. Terbayarkan lunas di LBB PPI Kota 2018, Juara 1, baru ini nduk prestasi paling tinggi Pasukan Tonti Bhawara selama tim pelatih pegang, iya pernah Juara Umum tapi baru ini Juara 1. Pasukan putra asik juga, terselesaikan juga Prnya, gundul karena ga lolos LBB DIY 2019. Nangisnya pasukan putra dan ngambeknya pasukan putri yang ga bisa barengan baris lagi di Mandala Krida malam itu jadi saksi kalian adalah salah satu pasukan terbaik milik SMP N 8 Yogyakarta.
UNBK, salah satu titik yang kemudian memisahkan kalian dengan dunia baris-baris. Harus fokus belajar demi sekolah idaman. Lapangan sepi tanpa suara khasnya Hanan yang serak-serak ga kedengeran yang dapet nomer 3 komandan di LBB PPI Kota 2018. Ga ada ceriwisnya Salman yang usil, dan teriakan-teriakan ga pantes pasukan putra pas ada yang salah. Sepi ga ada Ochi yang hiperaktif yang selalu dikawal ajudannya, Raza. Atau gengnya Yusva-Rachel-Zahwa-Faisa-Ulel, atau senyum kalemnya Audy sama Martha. Mungkin juga sengak dan nyinyirnya Diana penjuru besar. Makasih semua udah ngramein lapangan upacara SMP 8 tiga tahun ini. Maaf belum kesebut semua, apal kok semua, cuma kalau nyebut satu-satu di sini kudu liat presensi kalian, hehe.
Temen-temen kelas SKS, andhika-aqeel-angel-bella-sasa-lika-kayla. Sempet bingung dulu ini kelas macem apa, eh ternyata kelas akselerasi, percepatan (lulusnya). Belum sempet main banyak sama kalian bertujuh. Tugas kalian di LBB PPI Kota 2018 selesai dengan manis, nropi. Tahu kan rasanya nropi, tapi maaf kalian ga bisa lanjut baris karena mendahului UNBKnya. Baru mau akrab udah mau lulus aja kalian. Semangat kalian tetap dibawa temen-temen 57 sampai jatah lomba terakhir tahun ini di LBB DIY 2019. Apapun agenda 57 kalian harus ikut besok, iyasih seragamnya SMA tapi hatinya kalian kayaknya ketinggalan di Pasukan Tonti Bhawara 57 deh, hehe. Selamat berjuang nduk-le, pintu Tonti Bhawara selalu terbuka buat kalian ga peduli seragam kalian beda sendiri bulan Juli besok.
SMA besok bukan lagi masa anak-anak, peralihan kalian menjadi orang yang lebih dewasa, lebih bijak. Iyasih bakalan lebih banyak main karena lebih bebas, lebih banyak event macem-macem, sibuk. Kerahkan semua kemampuan seperti usahanya Hanan di PPI Kota 2018 buat UNBK besok senin sampai kamis yang disambung USBN. Hasilnya tinggal diserahkan ke Yang Maha Kuasa, berapapun nilainya itu jalanmu buat nyari sekolah idaman kalian. Kelak bukan soal kalian sekolah dimana tapi “JADI SIAPA” kalian di sekolah yang baru. Janji ya bakalan jadi anak SMA yang mimpin teman-temannya, jangan cuma jadi kroco yang kemana-mana nginthil tanpa inisiatif. Jadi anak yang kreatif, inisiatif, buang jauh-jauh malunya, kalian anak Bhawara, apalagi Pasukan Tonti Bhawara, harus jadi orang keren di sekolah baru dengan kemampuan kalian. Jangan sering-sering maen ke Bhawara dulu besok SMA, iya cintanya buat Bhawara selalu ada, Bhawara selalu ada disitu juga kok, sekolah barumu berhak kalian cintai dulu. Kangen pelatih-pelatih baris kalian juga jangan lupa (
Terima kasih bikin dongeng baru buat Patwa yang kelak jadi inspirasi adik-adik kalian, terima kasih kakak-kakak 56 dan beberapa 57.
22 September 2018
Farewell 55
Surat Cinta untuk Anak-anak Ajaib Nomer Lima
Yah ketemu surat cinta lagi tahun ini. Anak-anak ajaib nomer lima, pasukan dengan hati paling besar. Kayak baru kemarin deh kita nropi-nropi asik, padahal udah setahun yang lalu.
Mas muk masih inget, tahun lalu diawali 'mas nek 55 ga punya tropi gimana mas?'. Satu hal yang menyadarkan bahwa pasukan ini bukan lagi pasukan yang berjuang buka jalan seperti 51-52-53-54 sebelumnya, jalannya sudah ada hanya kesempatan main cantik belum kunjung datang. Masih inget juga ini pasukan paling gembeng, paling gampang mewek.
Mewek-meweknya dimulai dari entah H-1 lomba yang mana, di serambi masjid Mira sama Ina. Endingnya yang cuma juara 3 PPI Kota aja meweknya seangkatan, bahkan baru kemarin ketemu pasukan putra paling lembut, nangis juga di pengumuman PPI Kota 2017.
Bangga juga punya kalian yang berbesar hati bilang 'ga mas, harus semua ikut lomba' ketika persiapan lomba barengan sama persiapan lomba LTnya temen-temen Guweg Ireng dan Teratai Biru. Bener deh hasilnya keren semua, Tim LT juara 2 putra dan putri, yang sebelumnya barengan pasukan Tonti Bhawara 55 seangkatan juara umum. Tropi kaca pertama yang akhirnya mampir ke SMP 8, di pengumuman lombanya tetep pake mewek-mewek lagi yang kemudian kita kenang di 12 Maret jadi Hari Tonti Bhawara, hari dimana akhirnya kita dapat prestasi yang jadi dambaan, juara umum. Sebelumnya sih cuma pake hastag #menujujuaraumum dan 12-03-17 kita sampai juga di juara umum.
Menuju UN, mau ga mau harus ikhlas melepas kalian-kalian yang hatinya sangat besar nduk-le. Kalo 51 itu terasyik, 52 paling dewasa, 53 terstruggle, 54 terbaik, kalian 55 terbesar hatinya, baru kali ini nemu pasukan tonti bhawara hatinya sebesar kalian. Tiap tahun Tonti Bhawara harus ikhlas melepas 1 angkatan terbaiknya, tapi selalu ada suksesor yang selalu melebihi kakak-kakaknya. Doakan adik-adik kalian 56 dan 57 selalu lebih baik dari kalian kak. UN besok senin jadi modal nebus tiket masuk SMA impian kalian kelak. Tonti Bhawara selalu bangga dengan perjuangan kakak-kakaknya dan akan selalu berusaha lebih baik dari kalian. Doakan 56 nyalip rekor kalian tahun ini yaa, doakan juga 57 yang jalannya masih panjang bisa makin keren.
Selamat menempuh Ujian Nasional kakak-kakak 55, semoga lancar. Terima kasih kisah-kisahnya.
13 Desember 2017
See You Soon 54
Surat Cinta untuk Anak-anak Ajaib Nomer Empat.
Cie nulis surat cinta lagi mas muk? Ga usah tanya surat cinta buat mbaknya, mbaknya yang mana coba?
Tonti Bhawara 54, kepanjangan ceritanya jadi beberapa aja yang diceritain, sisanya kita kenang sendiri aja yakan nduk-le. Skuat baris nomer empat setelah 51-52-53. 51 yang kemarin habis UN SMK/SMA. 10 April ini kalian USBN jadi gapapalah dikasih surat cintanya kayak 52 sama 53 dulu. Pasukan dengan format 1 putra dan 2 putri ini debutnya agak njomplang, 1 putra dan 1 putri ikut di PPI Kota, 1 putri lainnya ketinggalan. Lupa mas mukti kalian ikut di LBB Delayota enggak ya dulu? Ikut ding ya, hasilnya lupa mas mukti. Yang pasti di LBB Prayata kala itu nyaris juara tp kalah poin sama yang dapet jatah upacara.
Tahun kedua seolah jadi tahun yang menyenangkan, dobel juara 3 di kota sama diy. Asik ya, bahkan yg putri ga mau kalah nyusul ke provinsi tahun lalu, walau di diy akhirnya dapet pelajaran sangat berharga, perlu banyak koreksi. Tiga tropi PPI (2 kota-1 diy) lengkap semua putra-putri tambah bonus tropi juara tiga di diyata tahun lalu. Akrab ya sama juara 3 yaa, tapi bagian tropi PPI nya bikin susah adik-adik kalian, susah dikejar tau, susah.
Ujian sudah siap nunggu semua di depan, hajar aja kayak kalian nggebrak di lomba baris. Udah kenal sama yang namanya nyaris-nyaris, ujian sekolah besok harus jadi keren. Maaf cuma bisa ngasih sedikit liwat tonti bhawara, cuma bs ngasih pengalaman kerja keras. Maksimalkan ujian sekolahnya, buat bekal di UN bulan depan. Kakak-kakak kalian bisa sukses juga di UN, kalian harus bisa. Selamat bekerja keras-nduk le, kalian bakalan dikenang sebagai salah satu pasukan keren di tonti bhawara. Fly High Tonti Bhawara 54! Inget guweg itu ga berisik kalo terbang, tiba-tiba aja menghujam mangsa langsung mati. Mas mukti-mas adit selalu siap doain kalian, selamat berjuang, tunjukkan ke adik-adikmu siapa Tonti Bhawara 54. Terima kasih kerja kerasnya, kalian keren.
10 Juni 2016
sampai jumpa 53
21 April 2016
Belanda (7. The Seminar)
23 Maret 2016
After The Box : Wet Box
![]() |
| Juara 3 PPI DIY 2015 kemarin. |
Persiapan di tengah UTS menyisakan satu hari saja untuk latihan setelah sepekan sebelumnya ilang-ilangan, apa boleh buat, hanya ada satu hari yang harus dimaksimalkan. 19 Maret 2016 lengkap sudah persiapan apa adanya.
Lomba yang tidak biasa ini menggunakan pos besar dengan hanya sepasukan ber21 dengan 1 komandan. Dua puluh sembilan materi dalam satu pos harus dijalankan dengan batas garis sebagai tembok, ya baru tahun ini aturan garis diganti dengan model tembok. Pasukan pertama, 54 putra maju dengan nomer dada 6 dengan persiapan yel-yel paling mantap dan plekenyik praktiknya kurang greget, tak apa enggak masuk nilai materi yang akan dijalankan. Materi mulus meski beberapa agak mengkhawatirkan. Pasukan selanjutnya, 54 putri masuk pos terakhir sebelum jeda istirahat makan siang. Setelah yel-yel lancar, ada 1 kesalahan, keluar garis, oke minus 100 poin, materi lancar meski kompaknya belum bener-bener pas. Usai jeda istirahat makan siang, mendung kemudian hujan, pasukan ketiga, 54 campuran siap masuk pos kedua setelah pasukan di depan selesai.
Hujan mulai agak deras dan lomba ditunda beberapa menit sampai agak reda. Kecuali pos materi SMA dan Variasi SMA yang tahu sendiri anak-anak SMA tetep lanjut, semangatnya ngeri. Genangan air menyambut di daerah persiapan sebelum akhirnya cuss lanjut masuk pos ketika hujan agak sedikit reda, masih gerimis. Lengkap sudah 3 pasukan maju tinggal menantikan hasilnya. Agak berat sebenarnya tahun ini, mengingat peserta SMP mencapai 32 peserta, dengan hanya 1 pos sudah dipastikan persaingan poin ketat, sangat ketat, penalti pun sebenarnya tidak dapat ditolerir karena pasti akan jatuh jauh di bawah.
Lomba ini spesial, lomba pertama pasukan tonti bhawara kemudian merasakan lomba di waktu hujan. Biasanya main pagi, sebelum istirahat makan siang sudah selesai. Hujan biasanya datang agak siang sampai sore. Belum pernah mendapati masuk pos kala hujan, baru kemarin. Tapi biasanya hujan pertanda baik, biasanya juara, biasanya, lebih sering tidak biasa sih. Latihan satu hari, tropi juara 3, pertama kalinya lomba di kala hujan, capaian 20 Maret lalu. Tak perlu kecewa, persiapan mepet, pasukan ilang-ilangan, mau apa lagi? #menujujuaraumum masih belum tercapai, belum pantas, nanti kalian sombong, masih harus lebih banyak belajar lagi. Kecewa? silakan, artinya kalian sadar perjuangan kalian sebelum lomba meskipun hanya satu hari.
Hujan, pos basah, juara 3, sekian.
15 Maret 2016
Pasukan Ijo
SMA 11, ah mungkin hanya remah yang terpinggirkan di pertontian kota. 2006-2007 saya masih menikmati rasanya di peringkat buncit dengan seragam warisan milik sekolah, ga pernah ganti yang makin lama makin ilang kelengkapannya. Biru Laut usai digunakan sampai 2008 yang kemudian tiba-tiba tropi PPI Kota datang bersama si angkatan 2011. Hebat.
Kehebatannya lanjut kemudian beberapa tropi lagi dibawa pulang. Banyak. Lomba Baris Berbaris itu agak aneh, kapan nilai bagus ya tergantung kecocokan kita baris dengan cara juri memandang. Ah yang penting seru. Pasukan ini seru, asyik, saya dibesarkan di sini. Bahkan masih jadi sebuah keluarga besar.
PASDIPTAMA. Pasukan Ijo. Jarang juara namun selalu asyik untuk dibersamai. Agak kecewa sih kemarin 13 Maret ga ikut nemenin asyik-asyikan lomba di UII.
Sebuah keluarga besar yang terlatih untuk berada di bawah, ah kita juga sering di atas. Lomba Baris Berbaris Diyata yang besok 20 Maret kita buat beda. Kita tahu bagaimana caranya kesulitan mencari anggota pleton sampai 10 trio. PPI Kota terakhir pasukan putra ber 8 trio sampai ke peringkat 11, bayangkan saja kalau pasukannya penuh 10 trio, sudah dipastikan bakalan di bawah peringkat 11, hehe.
Ini keluarga saya, okelah status sebagai pelatih tapi kami pelatih yang selalu kembali ke PASDIPTAMA adalah keluarga yang care untuk adik-adiknya. Jangan pernah sampai terulang prestasi juru kunci yang pernah saya alami dulu. Alumni banyak, yang akhirnya kembali penuh ke pasukan ijo terbatas, banyak kesibukan. Mungkin hanya kita-kita yang selo, tak apa lah kami bantu sebisa kami.
Jangan ragukan cinta kami ke PASDIPTAMA, kami dibentuk di Pasukan Ijo ini, tak mungkin kami tega kemudian lari tanpa peduli dari pasukan ini. Mau membandingkan dengan Teladan? Smada? Padmanaba? Mache? boleh, tapi kami mungkin agak jauh di bawah mereka. Jangan biarkan hanya kami saja yang kemudian berhasil membawa PASDIPTAMA sukses, kembalilah ke sekolah membersamai adik-adik kalian mas-mbak, saya yakin cinta kalian pun sama besarnya dengan kami. Belum bisa ke PASDIPTAMA? tak apa lah, doakan kami makin keren.
14 Maret 2016
After The Box
13 Maret 2016, Lomba Baris Berbaris Prayata ketiga untuk SMP 8 Yogyakarta. Spesialnya adalah si kakak 51 jadi panitia, kakak 52 beberapa bantuin adik-adik 55 beraksi sekedar menemani, adik 53 esok pagi TPM kirim doa via Line, adik 54 esok pagi UTS namun beberapa datang sekedar mampir, si bongsor 55 resmi beraksi di lomba pertama dengan pasukannya sendiri. 2 tahun silam di event ini kakak 52 membuka jalan rangkaian tropi tonti di SMP 8 Yogyakarta, tahun lalu si adik 53 harus kecewa karena kalah poin upacara saja. PASDIPTAMA berjuang di UII, lombanya barengan dengan LBB Prayata.
Belum bertropi kali ini. PASDIPTAMA belum bisa menembus papan atas di LBB UII, berbeda peruntungan dengan partner pasukan putra di PPI Kota tahun lalu yang sukses masuk posisi 11 dengan hanya 8 trio saja dalam pos. Pasukan putri kali ini beraksi dengan 9 trio saja, persiapan di tengah-tengah liburan Ujian Sekolah kakaknya kelas 12 dan keruwetan jelang LBB nya sendiri 20 Maret 2016 mendatang.
Begitu pun dengan Tonti Bhawara, masih belum berhasil masuk 1/3 atas peringkat peserta. Seperti biasa targetnya hanya 1/3 atas peserta. Banyak pemakluman, banyak koreksi bahkan untuk kami, pelatih. 3 Komandan demam panggung, persiapan yang sudah dijalani kemudian lepas fokus, grogi, tegang, jadi satu. Pemakluman lomba pertama?
Apa yang terjadi setelah keluar pos? Menantikan pengumuman, selalu saja menemukan sisa-sisa kekecewaan atas apa yang sudah diusahakan. PPI Kota 2012, lomba baris berbaris pertama saya bersama dengan Tonti Bhawara, sang kakak 51. Usai pengumuman banyak air mata jatuh, yah effort selama persiapan tiba-tiba harus pupus setelah hasilnya keluar. Lomba baris bukan seperti lomba mata pelajaran yang ada standar pasti jawaban yang diinginkan. Oke ada patokan penilaian tapi semuanya kembali ke pandangan mata sang juri. PPI Kota 2015 tahun lalu, adik 53 yang habis-habisan usaha mengumpulkan kawan-kawannya untuk kembali tampil sebagai persembahan lomba terakhir ternyata harus gagal. Adiknya 54 berhasil meraih tropi, 53 dengan usahanya mengumpulkan pasukan ditengah intimidasi 'sudah kelas 9', 'persiapan UN', 'fokus belajar', 'LES' dan lain sebagainya. Dua komandan putri 53 saya jelas terlihat bagaimana kecewa beratnya dengan hasil terakhir yang seharusnya menjadi perpisahan yang manis layaknya kakaknya 52 tahun sebelumnya yang berhasil lolos ke Provinsi sebagai runner up PPI Kota 2014.
55 baru saja menyelesaikan lomba pertamanya dengan hasil yang masih belum memuaskan. Layaknya 51 pertama dan terakhir partisipasi lomba baris dengan hasilnya yang pas-pasan. Kecewa pasti karena dulu hanya ada satu kesempatan lomba, itupun khusus kelas 8, kelas 9 boleh dikata cukup berani untuk mengulang lombanya.'maaf ya mas, maaf masih belum bisa menangin, maaf' komandan PASDIPTAMA live report hasil lomba di UII. Belum berhasil, hampir seperti biasa. Orang lain kadang hanya melihat hasilnya, entah apapun prosesnya hanya sedikit yang mengikuti. Buat saya kemarin mereka sudah bekerja keras, bermain semanis mungkin sebisa mereka. Para komandan yang saya yakin mereka berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan. Komandan yang harus memimpin pasukannya menuju akhir pos. Juara itu selalu dicari tapi proses menuju juara selalu menjadi seni tersendiri.
Hasil kadang sering menyesakkan tapi selalu kita dapatkan evaluasi untuk diri kita sendiri agar jauh makin lebih hebat dari apa yang kita dapatkan hari ini, mungkin hasil yang mengecewakan bisa jadi menjadi tolakan kita menuju sesuatu yang lebih besar. Kadang kita perlu sesekali terjatuh untuk harus belajar berdiri kembali dan berlari, bukan berlari tanpa rintangan.Y
akinlah nak pelatihmu juga ga tega liat anak-anaknya nangis atau paling tidak kecewa dengan hasil akhir. Apa boleh dikata, pleton dengan permainan paling cantik yang berhak juara. Usaha kalian jarang terlihat tapi saya tahu bagaimana kalian berproses. Masih banyak yang perlu diperbaiki, termasuk kami para pelatih yang kadang memang hanya bersuara saja.
Jangan pernah menangis sebelum bawa tropi, itu dulu pesan saya kepada anak-anak Bhawara 51.
29 Februari 2016
BHAWARA-PASDIPTAMA
2012 mulai resmi melatih di SMP 8 Yogyakarta, headcoach semasa SMA dulu yang mengarahkan. Pesannya satu, profesional, jangan pernah harapkan banyak uang, bekerjalah serius nanti uang akan datang sedniri. Benar saja ternyata isinya anak-anak ajaib, super sekali. Membangun dinasti itu lama, berat, susah, butuh waktu.
Kembali ke SMA 11 Yogyakarta, ketahuilah mas-mbak sistem kepelatihan di PASDIPTAMA itu beda. Tidak ada pelatih yang dikontrak dari luar kecuali hanya alumni tonti yang turun menurun melatih, kami anggap main untuk membersamai latihan baris. Seneng banget ke SMA liatin baris? CINTA, cukup satu kata itu aja yang selalu kami bawa. Bolehlah kalian anggap kami (alumni) pelatih, dalam diri kami ini untuk bakti kami yang dulu pernah latian dan pengen PASDIPTAMA jadi lebih luar biasa dari pasukan kami dulu.
Alumni itu banyak, cuma yang sempat balik untuk PASDIPTAMA terbatas. Kami semua CINTA untuk PASDIPTAMA, kami ingin PASDIPTAMA makin seru.
Khusus dari saya sendiri, maaf lebih sering tidak hadir, pekerjaan di sekolah lain (anggap saja mereka adik-adik kalian). Kami (alumni) selalu ada untuk kalian, sehari saja melewatkan kebersamaan PASDIPTAMA serasa tidak lengkap. Tetaplah kompak, jangan pernah lupa untuk kembali ke PASDIPTAMA kelak ketika sudah lulus, adik-adik kalian butuh cerita hebat kalian, syukur-syukur memang ada dedikasi untuk melatih PASDIPTAMA.
Mas-mbak, saya cuma pengen BHAWARA juga punya keluarga Alumni layaknya PASDIPTAMA yang kelak bakalan pegang mereka juga, ga usah iri, CINTA ini beda untuk PASDIPTAMA.
22 Februari 2016
Coach
Anak-anak ajaib? ya aku lebih seneng nyebut mereka dengan julukan itu, nomer satu-dua-tiga-empat-lima dan tengah tahun ini siap datang nomer enam. Ngajari baris untuk anak SMP bukan perkara mudah, beda dengan anak SMA yang tinggal sentak jadi. Semangatnya ilang-ilangan, mau latihan serius susah, dibentak pun malah ketawa-ketawa. Bukan ga bisa tegas, harus dengan pembawaan yang beda.18 Februari 2016
Fly High 53!
Lagi, pasukan terbaik siap terbang menuju sekolah impian beberapa bulan ke depan, yakin deh ga bakalan kerasa beberapa bulannya.
2013, awal pertama turun lomba PPI Kota Yogyakarta. Sebagai anak baru tau lomba baris dengan pasukan yang ga kira-kira jumlahnya (yang putri). Bayangpun, kalau saja panitia ngeh pasti udh kena diskualifikasi, dari aturan 30 anak dalam pasukan dengan 5 cadangan ternyata ga bisa mengakomodir jumlah pasukan yang jumlahnya 40an, alhasil dengan 12 cadangan semuanya masuk gantian, yang penting semua main. Cuma angkatan 53 aja yang punya 2 pasukan, 1 putra dan 1 putri, beda dengan kakak dan adiknya yany 1 putra dan 2 putri. Hasil lomba perdana, yah sudah dipastikan ambyar.
2014, kemudian mulai mendobrak pakem dengan ikut lomba selain yang diselenggarakan PPI. Jatah 2 lomba milik kakak-kakak 52 yang akhirnya dapet tropi pertamanya, cari aja kisahnya di cerita anak ajaib nomer dua. Nah di adik, tonti bhawara 53, anak ajaib nomer 3 dapet kesempatan ikut LBB Diyata. Lomba baris paling nyleneh di Kota Yogyakarta dg aturan 7 trio. Dan hasilnya alhamdulillah ini anak-anak baru dapet juara 3-4-5 setelah pasukannya displit jadi 3 pleton khusus LBB Diyata, tropi pertama anak ajaib nomer tiga. PPI Kota kedua masih gagal, kakaknya 52 yang sukses dapet tiket ke Provinsi.
Membuka 2015 dengan LBB Diyata lagi kali ini masih dengan 3 pleton, 1 putra-1 putri-1 campuran, yah lombanya boleh pake pasukan campuran. 2014 lalu yg bertropi pleton campurannya, kali ini pleton putra dan putri yang beraksi dapet juara 2 dan 3 dengan komandan nyaris juara, Ariq. Sayang anak ajaib nomer 3 ini akrab dengan nyaris. Lomba sebelum Diyata, Prayata (LBB Teladan) kalah tipis poin upacara, that was a close! Berlanjut di LBB Smada yang 5 tahunan prestasinya lebih asyik, dobel juara 2 dengan komandan Prastowo harus ikhlas gelar komandan terbaiknya lepas gara-gara panitia yg kurang teliti. PPI Kota terakhir jatah mereka coba untuk dijajaki, sayang belum rejeki di PPI Kota, susah payah mengumpulkan pasukan untuk lomba terakhir dan harus kandas lagi. Adiknya si anak ajaib nomer empat dapet tiket provinsi dan juara 3 provinsi.
Bangga ketemu sepasukan anak ajaib lainnya, Tonti Bhawara 53, bagian SMP 8 Yogyakarta. Bangga bantu kalian angkat tropi. Perjuangan kalian masih panjang, UN di depan mata. Berusahalah sekeras gebrakan kalian, seasyik putaran aksen bahu kalian, secepat tangan ke posisi hormat. Terima kasih, semoga sukses di SMA kelak. Maaf hanya sedikit yang bs pelatih kalian berikan, kebanyakan omong ya? Kabari pelatih kalian kelak kalian bakal beraksi sekeren apa di SMA mana, ga harus di Tonti, kembangkan diri selalu pake tagline kita, JUARA!
*catatan perjalanan anak ajaib nomer tiga, ralat keterangan di foto Juara 2 LBB Diyata 2015 Komandan Ilma dan Juara 3 LBB Diyata 2015 Komandan Ariq

















