15 April 2014

Perjalanan Pulang

awan hitam makin tebal menggulung dihadapan mata ketika gambar seorang wanita nampak ramah menyapa semua pengendara yg menuju ke bawah awan tebal tadi, sekelebat bendera partai nomer 3 lusuh berkibar di ujung bambu yg mulai lapuk yg ditalikan di sebuah pohon mangga di sebelah toko kayu di pojokan pertigaan berlampu lalu lintas, ah pesta kemarin terlewatkan sudah, kembali ke kehidupan nyata bekerja dg (janji) wakil rakyat yg entah kemana, lampu hijau menyala kemudian seluruh kendaraan melaju mengarah ke bawah gumpalan awan hitam, air mulai memercik di muka dan tangan lalu tiba2 air jatuh dg liar ku putuskan meminggirkan motor berteduh sembari menantikan air agak sedikit jinak, setelah air mulai kalem kulanjutkan perjalanan dan namun harus kembali menepi untuk menebus barang yg lupa terbawa baru kemudian lanjut kembali menembus air yg sudah sangat jinak, kutinggalkan seorang bapak yg berteduh, baru beberapa ratus meter menembus air kembali dua anak kecil dg wajah polosnya yg meronakan guratan bahagia yg teramat sangat mengibarkan bendera kepala banteng berhidung putih dengan bambu yg entah dimana mendapatkannya, huh lewat sudah pesta nasional kemarin, kita nantikan bagaimana pilihan kita jadi juara untuk kita sekalian, terima kasih hujan sudah membasahi kami dengan kuyup sore ini, lain kali bawakan kami pelanginya juga :)

30 Januari 2014

Mereka Bernama PAPIT

PAPIT? coba ketik secara cepat kadang terketiklah kata PAIT, itu saya :P

Sebuah organisasi kepemudaan yang berisi pemuda, yo iyo lah mosok simbah-simbah. Pemuda yang sudah berprofesi sebagai graphic designer, carpenter, tukang bangunan, penata artistik, fotografer, light-man, dekor-man, tukang listrik bagian instalasi, rekayasa alat dan yang paling fenomenal adalah Tukang Sampah, eh salah Tukang Bersih yang mengelola SAMPAH.

Pemuda mainan SAMPAH? Memang itulah yang mereka kerjakan, mainan sampah. Siapa sangka dari sampah mereka bisa buat panggung, bisa punya perlengkapan lighting panggung yang boleh dikatakan lengkap. Terakhir mereka punya alat yang cukup ciamik, light-dimmer yang bisa bikin lampu redup-terang cuma dengan muter saklar aja. Hanya butuh kreativitas dan ke"ndregil"an untuk membuat karya semacam ini.
set panggung

3 Oktober 2013

Koruptor vs Tukang Sampah

Sensus penduduk Indonesia terakhir tercatat 230 juta manusia tersebar di Indonesia. Entah berapa yang petani, berapa yang pejabat, berapa yang maling, berapa yang pemulung, yang pasti ada 33 Gubernur, 1 Presiden dan 1 Wakil Presiden.
Banyak manusia sama saja dengan banyak sampah. Itung aja dalam sehari tiap orang produksi 250 gram sampah lah, berarti tiap hari Indonesia nyumbang 575.000.000 kg sampah. Setengah dari jumlah impor beras indonesia yang jumlahnya 1 juta TON beras. Tapi belum tentu semua orang produksi sampah juga sih, itu itungan "bodon" aja. Mungkin lebih, sampah industri belum diitung juga lo.
Masih ada satu lagi tren yang berkembang di Indonesia, koruptor yang minta ampun ga pernah punya kapok meski udah banyak yang diproses. Atau kalau enggak mereka punya panutan koruptor senior yang dengan mudahnya nyuap hakim untuk menentukan putusan. Kasus terakhir pagi ini Ketua MK ketangkap tangan sedang menerima suap, nah lo!

6 September 2012

6 September 2012

Terakhir posting tanggal 30 Januari 2012 . . ., stetoskop itu masih dipakai kakak saya :)
Terlewatkan 8 bulan dan saya bersama teman-teman sudah berhasil melahirkan Bank Sampah 56. Sebuah konsep pengelolaan lingkungan sederhana yang dikelola oleh pemuda. Kalau kemarin teman saya posting di FB bahwa ada yang lulus kuliah langsung jadi direktur, yah itu mah kalah hebat dengan saya dan teman-teman, ini belum lulus kuliah udah jadi CEO Bank coba, kerenan mana hayooo? :D

Resmi dibuka bulan April berarti sudah ada sekitar 5 bulan Bank Sampah 56 ini berjalan. Bermodal 1 timbangan dapur, 1 timbangan gantung, meja mushola, tikar mushola dan beberapa alat yang didapat dari sampah yang dibuang seperti nota bekas, keranjang plastik bekas, kardus dan banyak sampah lainnya. Berbasis tanggung jawab sosial, konsep Bank Sampah 56 menggunakan sistem timbal balik. Artinya sampah yang disetor akan dikembalikan dalam bentuk uang kepada nasabah. berbeda dengan dulu pengumpulan modal Bank Sampah 56 yang kami harus merampok sampah warga, menjualnya dan uangnya jadi modal untuk membangun Bank Sampah 56.

Perumahan Sedayu Permai A1 nomer 4, sebuah rumah milik Bapak Harun yang belum ditinggali menjadi basecamp kami, 1 kamar kami gunakan untuk menjadi gudang sampah. Sampah yang disetor tiap hari minggu dipisahkan berdasar jenis dan kesamaan bentuknya dalam 1 karung plastik. Terhitung penjualan sampah meningkat dari waktu ke waktu. Bulan lalu sudah dilakukan pencairan karena memang komitmen kami akan melakukan pencairan uang setiap 3 bulan sekali. Hanya saja kami kekurangan armada untuk menjual sampah. Memang kami belum bisa berhasil mengolahnya, kami hanya menjual ke pengepul, tapi tak apa lah kami akan berusaha lebih keras lagi untuk Bank Sampah kami ini,

see you next post . . .
regards
tukang sampah amatiran

30 Januari 2012

Suara Adzan Maghrib Itu Terdengar di Stetoskop Saya ?

Q : Stetoskop? Apa-apaan mosok Tukang Sampah maenan stetoskop?
Ngimpi jadi dokter mah iya mungkin,
A : Yah lagi males aja maenan gerobak sampah terus dari kemarin #sok