Dipanggillah namaku Bang Muk! Baru saja balik badan dirimu sudah nyebul bunganya, mabul lah bunganya yg putih-putih ke wajah. Dirimu mesem-mesem dan aku pun cuma eemmm.
beberapa checkpoint kisah perjalanan untuk mungkin suatu saat bisa dikenang
31 Mei 2015
22 Mei 2015
Belanda (4. Schipol, Amsterdam)
Masih amaze ama fasilitas kelas ekonomi maskapai kebanggaan Bangsa Indonesia, full entertainment. Time to explore the fitur, main pejet sana-sini dari mp3 sampe game dan akhirnya mentok di Film. Sok-sokan nonton film berbahasa inggris ternyata tanpa subtittle, yasudah pilihan jatuh ke Dogdeball, mayanlah tau dikit-dikit. Kebayang kan bakalan mabur 17 jam di langit dunia tanpa fitur entertainment bakalan sepi aja.
Flight attendant kemudian bagiin snack ama minum, alhamdulillah setelah 2 kaleng bear brand harus dikandaskan di checking bagasi, volume 110 ml ga lolos buat masuk pesawat. Gelasnya kecil sih, sempet grogi juga mau nyebut oren jus akhirnya minta jus jeruk, damn udik amat ni anak, mesti terbang jauh pertama kali. Pas jelang penumpang mulai capek, ibuk-ibuk pramugari bagiin penutup mata-ear piece-kaos kaki biar pd tidur nyenyak, monitor di head rest depan masih setia menunjukkan seberapa jauh dari Belanda, jauh mamen.
Kemudian terbangun udh terang aja di luar, buru-buru tayamum trus subuhan, seadanya, lillailhita'ala, ga mau lah safar jauh tapi ga sholat, kapan lagi sholat dalem pesawat, haha.
Selanjutnya cuma sarapan dan mengamati berapa lama perjalanan lagi sampe di Amsterdam. Setelah pemandangan gurun kemudian berganti daratan hijau, anggep aja habis Timur Tengah langsung masuk Eropah, skip.
Jelang Amsterdam, nampaklah pemandangan lahan ijo terpetak-petak dg beberapa kincir angin, amazing pol. Pukul 11:00 waktu Belanda pesawat GA-88 landing mulus di Bandara Internasional Schipol, gedhe banget mamen. Habis landing uthuk-uthuk masih harus jalan di darat sekitar 5-10 menit utk sampe terminalnya, liwat atas jalan tol yg sepi dg kendaraan yg liwat dg asyiknya, alhamdulillah landing, Belanda.
Kelas ekonomi sudah dipastikan keluar belakangan, jaket gunung terpasang, tgl kethu (tutup kepala) yg blm kepasang. Masuk ke jembatan dr pesawat ke bandara langsung ditampar dinginnya Amsterdam, 3℃ langsung buka ransel pasanh kethu, ademnya ga kira-kira.
Berjalan menuju lounge bandara ketemu dg 2 kontingen ISSC yg sebelumnya ketemu di Yogyakarta dan nambah 1 lagi orang Indonesia asal ITS, Surabaya sendirian dg inovasinya yg super keren kelak pas waktu presentasi di WUR. Istirahat bentar, cek HP, cari wifi, update dulu sampe Schipol dan ternyata si Sensa malah ngambek, sial harus reinstall dikala batere mepet dan butuh banget buat survive sampe penginapan nanti. Disambi bolak-balik cari cara buat beli tiket kereta api menuju Ede-Wageningen. Bingungnya orang udik ternyata ada yg care juga, 2 orang bapak-bapak dengan bail hatinya memberikan tiket terusannya menuju Wageningen yg masih bs buat 2 hari, sayang ga kepake padahal lumayan bs hemat €15 kalo itu dipake. Akhirnya nemu konter tiket di pojokan setelah nanya petugas. FYI, Belanda lg gencar gerakan non tunai, mesin tiket pake koin atau credit card padahal mau tuker euro dr kertas ke koin susahnya minta ampun, credit card mana punya. Kalo pun mau bayar fisik harus nambah tuslah (biaya tambahan) €1 buat cetak tiketnya. Tanpa tiket ada namanya OVChipkaart, semacam e-money nya Belanda buat transportasi massalnya, asyik lah tgl tap dan berangkat. Tiket di tangan, menuju basement Bandara Schipol dan nunggu kereta menuju Ede-Wageningen. Petualangan baru saja dimulai. Belanda.
14 Januari 2015
Belanda (3. First Flight Ever)
Ya Belanda, dan Pesawat.
Paspor-Visa sudah ditangan, dokumen siap, uang pinjaman lunak sudah ngendon di rekening, tinggal sekarang tiket menuju Belanda. Akhirnya merasakan bagaimana asyiknya naik pesawat. Moda transportasi yang dinilai paling aman diantara moda transportasi massal lainnya. Setelah Commutter Line-TransJakarta (bahkan saya belum pernah sekalipun merasakan TransJogja sejak awal launching sampai sekarang), sekarang pesawat, terbang, masuk ke Bandara :P
Setelah beberapa hari mengurus tiket keberangkatan. Beneran deh ribetnya minta ampun mau pesen tiket pesawat. Bolak-balik agensi buat memastikan jadwal keberangkatan-maskapai penerbangan sampai pembayarannya yang luar biasa besar transaksinya. Dari beberapa orang kemarin yang jadi berangkat adalah Saya-Ryan (1 tim) dan Eka. Banyak maskapai yang jadi alternatif, antara lain Lufthansa-Emirates-Etihad-MAS-Garuda. Pertandingan finalnya antara MAS atau GIA. Hanya selisih 2 juta kalau dirupiahkan, lebih mahal Garuda Indonesia tapi ternyata sudah termasuk tiket PP Yogyakarta-Jakarta dan PP Jakarta-Amsterdam. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Garuda Indonesia, kami lebih cinta produk dalam negeri daripada selisih 2 juta untuk negeri tetangga.
Belanda (2. Menuju Amsterdam)
8 Januari 2015
Belanda (1. Semua berawal dari mimpi, doa dan kerja keras serta sedikit berkah)
Agustus 2014 resmi sudah saya seorang Sarjana. Pengangguran, job seeker istilah kerennya, kerjaan sudah ada cuma kurang aja buat hidup, buat main cukup lah. Berkeliaran di luaran sambil menantikan tes CPNS. Alhamdulillah masih ada naungan asisten lab yang masih memperbolehkan untuk sedikit agak lama bertahan di kampus setidaknya satu semester membantu pelaksanaan praktikum adik-adik angkatan, karena saya satu-satunya angkatan 2009 diantara para asisten yang menjadi junior saya. Lulus terakhir untuk memastikan semua kawan asisten 2009 sudah lulus semua, naif, alibi untuk tugas akhir yang terlalu lama didiamkan.