10 Juni 2016

sampai jumpa 53

Surat cinta (lagi)

Entah seneng aja nulis surat cinta buat anak-anak. Bukan pesan terakhir jelang anak-anak ajaib lulus, tapi surat cinta, biar ada romantis-romantisnya gitu. Ya emang saya sayang mereka semua, kali ini untuk anak-anak ajaib nomer tiga. Tonti Bhawara 53, pasukan tonti ketiga yang saya pegang di SMP 8 Yogyakarta. Pasukan tonti kedua yang saya dan tim pegang penuh dari kelas 7 sampai kelas 9.

Anak-anak ajaib adalah sebutan spesial saya untuk anak-anak tonti smp 8, kenapa harus pake kata ajaib? Karena mereka ajaib, udah itu aja, pengen tahu ajaibnya apa silakan coba sendiri nglatih mereka kalau kuat.

Kembali harus melepas pasukan terbaik yang dimiliki SMP 8 Yogyakarta, seperti kurang afdol jika saya tidak melepaskan mereka terbang bebas untuk lanjut jadi anak-anak keren di sekolah-sekolah mereka selanjutnya. Maaf surat cinta ini hanya untuk anak-anak tonti bhawara khusus yang lulus saja. Lima tropi mereka bawa ke sekolah, banyak kata nyaris yang mereka dapatkan selama perjalanan baris-berbaris di ranah per-tonti-an kota yogyakarta. Nyaris juara 3, nyaris juara komandan, nyaris juara umum. Banyak kata andai yang kemudian terucap, andai di pos ini lebih fokus, andai di pos ini ga ada gerakan tambahan, andai di pos itu ga penalti, banyak.

Dari pasukan ini kemudian kita sama-sama belajar bagaimana menerima keadaan yang kita perjuangkan. Kadang kita sangat kecewa dengan satu kesalahan kecil yang akhirnya membuat hasilnya berantakan. Berulang kali harus menjinakkan pasukan ini untuk sabar dan legowo menerima hasil. Saya masih sangat ingat di persembahan semangat mereka di lomba PPI Kota terakhir mereka, duo komandan putri arra-ilma yang sangat kecewa, yah tiga kali mereka mencoba peruntungan di PPI Kota tanpa hasil yang memuaskan. Percobaan pertama pasukan dengan 12 orang cadangan tanpa pengalaman sebelumnya sekedar diberi kesempatan untuk mencoba atmosfer lomba baris. Percobaan kedua saya tidak bisa menemani, walau kakak-kakaknya 52 putri berhasil meraih tropi PPI Kota untuk pertama kalinya untuk SMP 8. Percobaan terakhir penuh emosi, masih gagal. Tak apa nduk, pelatihmu bangga, bangga banget.

Pasukan tonti bhawara 53 dipilih ketika 51 masih kelas 9 bantu-bantu nyeleksi dan 52 sebagai panitia yang milih anggota tonti. Pemilihan untuk pertama kalinya dengan format 1 pasukan putra dan 1 pasukan putri dengan jumlah yang sulit diterima dengan itungan anggota untuk lomba, 40 lebih per pasukan. Bayangpun jatah cadangan di lomba PPI Kota hanya 5 slot ini ber12 anak bisa masuk semua sebagai cadangan. Pasukan putra ilang-ilangan, wajar. Bahkan sampai lomba berikutnya sulit nyari 30 lengkap dengan 1 komandan putra.

Saya masih ingat di awal tahun 2014 ketika tropi-tropi mulai berdatangan, 53 yang masih kelas 7 bisa dapet tropi juara 3 di kesempatan kedua ikut lomba. Lomba unik di per-tonti-an Kota Yogyakarta, lomba dengan format pasukan boleh campur dan hanya 7 trio dengan 1 komandan, 1 pos saja. Percobaan pertama cukup di tropi juara 3 dengan pleton campuran. Percobaan berikutnya tropi lagi di lomba yang sama, juara 2 dan 3 dengan pleton putri dan putra yang berkesempatan angkat tropi, gantian kali ya? Lomba berikutnya yang bertropi bahkan bisa kembaran juara 2 putra-putri, nyaris juara komandan dan juara umum, yah belum rejeki saja. Sisanya di lomba yang lain bernyaris-nyaris ria tadi. Bahkan pernah kalah poin upacara saja, yah belum rejeki saja, bukan jalannya tropi.

Kalian hebat, keren, 5 tropi kalian persembahkan untuk bisa lanjut pamer prestasi di depan upacara bendera hari senin. Susah bisa cari tropi sebanyak itu untuk satu angkatan.

Yah walau harus diakui ini pasukan paling banyak ilang anggotanya. Setidaknya kalian bisa menunjukkan kualitas, oh iya tropi kembar tadi pasukan putra cuma 2/3 pasukan saja yang ikut, sisanya digenepi 54. Yah kalian keren, sebenarnya sulit melepas lagi pasukan dengan prestasi yang luar biasa, tapi sudah waktunya kalian meninggalkan SMP 8 untuk melanjutkan bakat kalian di SMA kelak.

Berapapun nilai UN kalian, angka berapapun, terimalah, ikhlas, seikhlas kalian menerima hasil nyaris-nyaris yang pernah kalian dapatkan dulu di lomba baris. Pelatihmu dulu juga cuma anak gagal, gagal dapet nilai yang cukup untuk masuk Teladan. Cuma cukup buat masuk SMA 11, bahkan setiap pagi harus menerima kenyataan selalu berangkat lewat plakat SMA 1, tetap jadi sekolah idaman sampai sekarang nduk-le. Terserah dimanapun kalian kelak sekolah dengan hasil UN kalian, yang pasti pelatihmu ga mau kalian cuma jadi anak biasa-biasa aja, ga boleh! Jadi anak keren di SMA, ga harus SMA 1 atau 3 atau TN, mana aja lah, kalian harus keren. Mau ikut tonti lagi silakan, tidak pun tidak pernah jadi masalah, yang jadi masalah adalah jika kalian cuma jadi bawang kotong di SMA kelak. Cari celah untuk jadi anak keren, ekstrakulikuler banyak, OSIS-MPK-ROHIS-ROKHAT atau apa lah terserah, kalian ga boleh biasa-biasa aja. Mosok anak tonti bhawara cuma jadi followers di SMA kelak, jadi leader lah, beraksilah.

Seberapun nilai kalian terimalah dengan lapang dada, ga usah iri dengan nilai kawan-kawan kalian lainnya, yakin aja itu hasil kalian mengerjakan sendiri, usaha sendiri,d isyukuri. Kelak di SMA manapun disyukuri, misal di SMA 11 ga usah minder sama temen yang di Teladan atau Padma atau TN. Yakinlah bahwa mungkin ada temen kalian yang menginginkan posisi kalian sementara kalian iri dengan teman kalian lainnya.

Nduk-le goodluck di sekolah baru kalian kelak, jadi anak keren, jangan cuma biasa-biasa aja. Ga usah malu sekolah dimana aja, besok tolong kabarkan di grup line, “mas mukti-mas adit aku sekolah di SMA ini”, yakin bangga. Kalau kalian pikir SMA kalian kelak biasa-biasa aja berarti tugas kalian bikin sekolah kalian keren. Cari caranya sendiri.

Selamat berjuang cari SMA dengan nilai UN kalian. Ga usah terburu-buru daftar, incer sana-sini dulu biar dapet sekolah yang asyik. SMA beda dengan SMP, rasakan sendiri aja kelak lika-likunya.

Terima kasih 5 tropinya, terima kasih pelajarannya untuk adik-adikmu. Kami ikhlas melepas kalian menuju sekolah impian kalian. Kami masih menantikan kalian bisa kembali ke Tonti Bhawara. Berjuanglah sekeras dan sekeren mungkin di SMA kalian kelak. Maaf masih gagal di perjuangan kalian bawa pulang tropi PPI Kota. Tiap angkatan spesial di hati kami, 53 ya 53 ga perlu dibandingkan dengan 51 atau 52 atau yang lain. Kalian spesial.


Last speech dari pelatihmu yang super cerewet kebanyakan kata di grup, goodluck guys. Pengen deh meluk kalian semua sekaligus, tolong keluarga besar ini jangan pernah ilang. Kelak kalian mungkin perlu me-recall beberapa kenangan hasil usaha ketika di tonti bhawara dulu. Terima kasih prestasinya, pelatihmu bangga.

21 April 2016

Belanda (7. The Seminar)

Setelah secara epic kita berjodoh untuk ketemu di Stasiun Ede-Wageningen, pas keluar stasiun pas Eka-Ryan baru sampe stasiun, sinetron banget, ga jadi lah ilang di negeri orang. Oke lanjut cari bis nomer 88 di samping stasiun. Belanda udah pake sistem e-money yang bisa dipake dimana aja, stasiun buat naik kereta, naik bis, ga kayak di Indonesia, e-money nya Mandiri harus diisi ulang di ATM Mandiri, punya tapcash nya BNI aja counternya udah ga ada yang bisa make. Noh dua Bank plat merah aja ga bisa kompakan, ah andai e-KTP bisa dipake.

Bayar tiket transportasi umum di Belanda selalu kena tuslah (istilah ini diserap ke bahasa indonesia lo, termasuk gratis itu juga bahasa belanda yang artinya cuma-cuma), Kena pajak cetak tiket sebesar 1 euro, 15 ribu rupiah, 2 mangkok soto di Indonesia. Tiket dari Ede ke Wageningen via bis 88 harganya sih 1,5 euro tapi ternyata harus bayar dobel, jadi 3 euro sampe Wageningen. Bisnya asyik, warna biru interior luas, mau glesotan juga bisa lah. Jalanan sepi, beneran mau ngebut juga bisa, isinya emang ngebut semua sih sebenernya. Satu spot yang masih nyantol adalah satu bunderan dan dipojokan ada bioskop, mendekat ke WU.

Sebuah hamparan padang rumput, sebut saja halaman rumput terbentang luas dengan beberapa gedung bediri tersebar. Wageningen University, disambut dengan semacam tugu lah, cuman kecil bentuk huruf W. Udah nonton Negeri Van Oranje kan? nah kampusnya Wicak ini, ijo. Sehampar lapangan (sudut pandang orang ndeso, hamparan rumput luas = lapangan) rumput ijo luas dengan beberapa gedung tersebar, ga semrawut mepet-mepet, luas.


Sedikit gambaran lapangan luas dengan gedung-gedung asyiknya. Nah seminarnya di gedung Forum, gedung coklat yang dibelakang. Entah serba kebetuln di negeri orang, pas sampe di Gedung Forum, pas panitia ada yang keluar. FYI masuk gedung ga bisa sembarangan, harus pake ID Card, yang ga punya ID Card harus pencet bel biar dibukain sama yang punya IC Card. Sebenernya sih agak telat, ya mau gimana lagi karena harus tersesat di belantara Lunteren. Dibawa lah kita sama panitia yg ternyata ketua acaranya, ini gedung udah kayak mall, pake eskalator, asik bener. Kiri-kanan sepi sih tapi ga kayak kampus-kampus di Indonesia, adhem pula, ya iya lah awal-awal winter.

Sampai di ruangan seminar harus registrasi. Entah gimana ceritanya paper ku bahkan ga masuk list presentasi, bayangpun harus sia-sia uang tiket PP Jakarta-Amsterdam udah jauh-jauh ke Belanda ga ngapa-ngapain. Registrasi ulang aman ternyata ada sedikit miss di panitianya. Yes nyeminar pake bahasa inggris, tes kemampuan bahasa inggris modal ngobrol sama bribikan, eh. Maklum lah telat masuk ketinggalan key note speech dari rektor atau dekan dr IPB lupa.

Lainnya sih simpel pake batik, aku ribet sendiri pake jas, tapi mayan lah necis dikit, haha. Jas nya bapak sih, jas bersama, dipake gantian. Seruangan sih isinya anak indonesia semua, ketemu lagi duo anak peternakan ugm sama satu anak its yang belakangan ternyata papernya amazing, ngurusi teknologi buat tambak udang, jadi serasa remukan peyek mlempem aja presentasi burung hantu ku. Respons petani terhadap teknologi pengendalian hama tikus dengan burung hantu, penelitian skripsi sih, lumayan bs diseminarin.

Bahasa inggris seadanya, enggak juga sih, lumayan pede. Karena jadi presenter terakhir, pertanyaan pun aman terjawab tanpa banyak debat, udah sore. FYI, jam 17.00 saat itu udah malem, maghrib gitu lah, sunset. Banyak hal dari seminar yang didapet, penelitian kita mahasiswa indonesia sebenernya keren-keren cuma ga tau caranya aja bisa sampe ke sasaran. Buat apa punya hasil riset yang keren tapi ga tersampaikan, nginep aja di perpus buat alesan ndeketin pustakawannya yang punya anak cakep? Ah. Berbagi ilmu dari temen-temen lain, sumpah penelitiannya keren-keren. Oh iya lupa, bagian lunch, makan siang soto ayam dengan rasa yang 11-12 sama kuah indomie soto spesial, tauge yang gedhe tebel tapi crunchy, dan paha ayam super gedhe tapi lembut banget. Ayam luar negeri gitu kali ya, tambah jus buah kotakan, ntaps lah makan siang pake mangkok styrofoam yang miyur-miyur.

Selesai seminar yang kemudian bikin bingung adalah mau kemana buat nginep. Rencana mau ngehotel bareng sama anak ITS, tapi setelah diskusi sama panitia akhirnya dikasih nginep deh di asrama, flat nya panitia, disebar brutal. Lumayan nginep gratisan sampe jadwal pulang. Bayangpun 270 euro harus kita bertiga ikhlaskan untuk nginep semalem, itu pun kita masih utang sekitat 110 euro, gimana ya nasib nya kurangan uangnya, haha tak apa lah kita juga cuma nginep semalem aja kok, 270 euro udah banyak itu. Finally kita jalan kaki ke flat mahasiswa di belakang kampus WUR. Bornsesteeg namanya, flat 20 lantai dengan 30 kamar tiap lantai. Model liftnya pun lucu, ga semua lift menuju lantai yang diinginkan, ada 3 lift dengan pilihan lantai yang beda-beda. Aku nginep di flat nya kevin, lulusan itb, lantai 10. Eka di flat mbak yani, Ryan di flat mas siapa lupa. Dan malam itu kami diajak ke supermarket serba ada sebrang jalan, lumayan harus jalan 500an meter lah, jajan buat makan malem penyambutan di Belanda. FYI di Belanda kalo belanja ga dikasih kresek, harus bawa wadah sendiri.

lanjut ke kisah berikutnya muterin kampus sepedeaan, amsterdam, uthrecht dan jamuan di flat mbak sukmo.

23 Maret 2016

After The Box : Wet Box

Wet Box? Kotak basah?
Enggak, ikut-ikutan istilah balapan yang pake istilah wet race aja sih, ga nemu buat lomba baris apaan bahasa inggrisnya, anggep aja box itu arenanya.

20 Maret 2016 kemarin anak-anak kembali beraksi. Pasukan Ijo jadi host untuk lomba dan Tonti Bhawara sebagai peserta. Kerja dobel, ndampingi panitia dan anak-anak ajaib.

Benar-benar ajaib kali ini karena agenda UTS yang tidak boleh jadi alasan, maka kemudian latian Tonti Bhawara hanya dilaksankaan hari Sabtu, 19 Maret saja, sehari. Belum menyamakan langkah, tempo dan yang penting belum ada yel-yel.

Hari perlombaan, pagi hari dibuka dengan hari yang cerah, anget, agak silau lah matahari. Lomba satu pos dengan yel-yel. Lomba kali ini diambil alih Pasukan Tonti Bhawara 54, setelah pekan lalu Pasukan Tonti Bhawara 55 melakukan debut lombanya dengan banyak pelajaran yang didapatkan. Di tengah isu panas Muslih Ghifari yang sudah bikin semangat membara membawa pulang tropi. Kesempatan membawa tropi di Lomba Baris-berbaris ini jauh lebih besar dan track recordnya memang bagus dua tahun terakhir.

Tiga pasukan yang dikirim terdiri dari satu pasukan putra, satu pasukan putri dan satu yang unik di lomba ini adalah satu pasukan campuran, tidak ada kategorisasi pleton putra-putri tapi semuanya dikompetisikan dalam satu arena hanya dengan jumlah 7 trio, 21 orang ditambah 1 komandan.

Juara 3 PPI DIY 2015 kemarin.
Lomba ini spesial, beda sekolah sih, cuma yang nglatih sama. Satu sisi ndampingi panitia si Pasdiptama, satu sisi ndampingi anak-anak ajaib si Tonti Bhawara. Tonti Bhawara punya track record yang bagus jadi masih selalu harus lanjut ngikut lomba ini, tahun lalu juara 2 dan 3 juga komandan yang nyaris dapet komandan terbaik, anak-anak ajaib nomer 3.

Persiapan di tengah UTS menyisakan satu hari saja untuk latihan setelah sepekan sebelumnya ilang-ilangan, apa boleh buat, hanya ada satu hari yang harus dimaksimalkan. 19 Maret 2016 lengkap sudah persiapan apa adanya.

Lomba yang tidak biasa ini menggunakan pos besar dengan hanya sepasukan ber21 dengan 1 komandan. Dua puluh sembilan materi dalam satu pos harus dijalankan dengan batas garis sebagai tembok, ya baru tahun ini aturan garis diganti dengan model tembok. Pasukan pertama, 54 putra maju dengan nomer dada 6 dengan persiapan yel-yel paling mantap dan plekenyik praktiknya kurang greget, tak apa enggak masuk nilai materi yang akan dijalankan. Materi mulus meski beberapa agak mengkhawatirkan. Pasukan selanjutnya, 54 putri masuk pos terakhir sebelum jeda istirahat makan siang. Setelah yel-yel lancar, ada 1 kesalahan, keluar garis, oke minus 100 poin, materi lancar meski kompaknya belum bener-bener pas. Usai jeda istirahat makan siang, mendung kemudian hujan, pasukan ketiga, 54 campuran siap masuk pos kedua setelah pasukan di depan selesai.

Hujan mulai agak deras dan lomba ditunda beberapa menit sampai agak reda. Kecuali pos materi SMA dan Variasi SMA yang tahu sendiri anak-anak SMA tetep lanjut, semangatnya ngeri. Genangan air menyambut di daerah persiapan sebelum akhirnya cuss lanjut masuk pos ketika hujan agak sedikit reda, masih gerimis. Lengkap sudah 3 pasukan maju tinggal menantikan hasilnya. Agak berat sebenarnya tahun ini, mengingat peserta SMP mencapai 32 peserta, dengan hanya 1 pos sudah dipastikan persaingan poin ketat, sangat ketat, penalti pun sebenarnya tidak dapat ditolerir karena pasti akan jatuh jauh di bawah.

Lomba ini spesial, lomba pertama pasukan tonti bhawara kemudian merasakan lomba di waktu hujan. Biasanya main pagi, sebelum istirahat makan siang sudah selesai. Hujan biasanya datang agak siang sampai sore. Belum pernah mendapati masuk pos kala hujan, baru kemarin. Tapi biasanya hujan pertanda baik, biasanya juara, biasanya, lebih sering tidak biasa sih. Latihan satu hari, tropi juara 3, pertama kalinya lomba di kala hujan, capaian 20 Maret lalu. Tak perlu kecewa, persiapan mepet, pasukan ilang-ilangan, mau apa lagi? #menujujuaraumum masih belum tercapai, belum pantas, nanti kalian sombong, masih harus lebih banyak belajar lagi. Kecewa? silakan, artinya kalian sadar perjuangan kalian sebelum lomba meskipun hanya satu hari.

Hujan, pos basah, juara 3, sekian.

15 Maret 2016

Pasukan Ijo

Pasukan Ijo resmi lahir di tahun 2009, pertama kali dipakai oleh angkatan 2011 tepat ketika saya baru saja lulus, efeknya tropi-tropi berdatangan. Pasukan Elit Tonti SMA 11, PASDIPTAMA.

SMA 11, ah mungkin hanya remah yang terpinggirkan di pertontian kota. 2006-2007 saya masih menikmati rasanya di peringkat buncit dengan seragam warisan milik sekolah, ga pernah ganti yang makin lama makin ilang kelengkapannya. Biru Laut usai digunakan sampai 2008 yang kemudian tiba-tiba tropi PPI Kota datang bersama si angkatan 2011. Hebat.

Kehebatannya lanjut kemudian beberapa tropi lagi dibawa pulang. Banyak. Lomba Baris Berbaris itu agak aneh, kapan nilai bagus ya tergantung kecocokan kita baris dengan cara juri memandang. Ah yang penting seru. Pasukan ini seru, asyik, saya dibesarkan di sini. Bahkan masih jadi sebuah keluarga besar.

PASDIPTAMA. Pasukan Ijo. Jarang juara namun selalu asyik untuk dibersamai. Agak kecewa sih kemarin 13 Maret ga ikut nemenin asyik-asyikan lomba di UII.

Sebuah keluarga besar yang terlatih untuk berada di bawah, ah kita juga sering di atas. Lomba Baris Berbaris Diyata yang besok 20 Maret kita buat beda. Kita tahu bagaimana caranya kesulitan mencari anggota pleton sampai 10 trio. PPI Kota terakhir pasukan putra ber 8 trio sampai ke peringkat 11, bayangkan saja kalau pasukannya penuh 10 trio, sudah dipastikan bakalan di bawah peringkat 11, hehe.

Ini keluarga saya, okelah status sebagai pelatih tapi kami pelatih yang selalu kembali ke PASDIPTAMA adalah keluarga yang care untuk adik-adiknya. Jangan pernah sampai terulang prestasi juru kunci yang pernah saya alami dulu. Alumni banyak, yang akhirnya kembali penuh ke pasukan ijo terbatas, banyak kesibukan. Mungkin hanya kita-kita yang selo, tak apa lah kami bantu sebisa kami.

Jangan ragukan cinta kami ke PASDIPTAMA, kami dibentuk di Pasukan Ijo ini, tak mungkin kami tega kemudian lari tanpa peduli dari pasukan ini. Mau membandingkan dengan Teladan? Smada? Padmanaba? Mache? boleh, tapi kami mungkin agak jauh di bawah mereka. Jangan biarkan hanya kami saja yang kemudian berhasil membawa PASDIPTAMA sukses, kembalilah ke sekolah membersamai adik-adik kalian mas-mbak, saya yakin cinta kalian pun sama besarnya dengan kami. Belum bisa ke PASDIPTAMA? tak apa lah, doakan kami makin keren.

Terlalu asyik untuk ditinggal, kebersamaannya menyenangkan. Ah cinta saya.





14 Maret 2016

After The Box

Catatan kali ini tentang hal-hal yang terjadi setelah keluar dari kotak. Kotak? Ya kotak, kotak pos lomba baris berbaris. Usai show up skill baris berbaris, keluarlah dari kotakan pos yang dibuat sebagai batas beraksi. selalu kotak.

13 Maret 2016, Lomba Baris Berbaris Prayata ketiga untuk SMP 8 Yogyakarta. Spesialnya adalah si kakak 51 jadi panitia, kakak 52 beberapa bantuin adik-adik 55 beraksi sekedar menemani, adik 53 esok pagi TPM kirim doa via Line, adik 54 esok pagi UTS namun beberapa datang sekedar mampir, si bongsor 55 resmi beraksi di lomba pertama dengan pasukannya sendiri. 2 tahun silam di event ini kakak 52 membuka jalan rangkaian tropi tonti di SMP 8 Yogyakarta, tahun lalu si adik 53 harus kecewa karena kalah poin upacara saja. PASDIPTAMA berjuang di UII, lombanya barengan dengan LBB Prayata.

Belum bertropi kali ini. PASDIPTAMA belum bisa menembus papan atas di LBB UII, berbeda peruntungan dengan partner pasukan putra di PPI Kota tahun lalu yang sukses masuk posisi 11 dengan hanya 8 trio saja dalam pos. Pasukan putri kali ini beraksi dengan 9 trio saja, persiapan di tengah-tengah liburan Ujian Sekolah kakaknya kelas 12 dan keruwetan jelang LBB nya sendiri 20 Maret 2016 mendatang.

Begitu pun dengan Tonti Bhawara, masih belum berhasil masuk 1/3 atas peringkat peserta. Seperti biasa targetnya hanya 1/3 atas peserta. Banyak pemakluman, banyak koreksi bahkan untuk kami, pelatih. 3 Komandan demam panggung, persiapan yang sudah dijalani kemudian lepas fokus, grogi, tegang, jadi satu. Pemakluman lomba pertama?

Apa yang terjadi setelah keluar pos? Menantikan pengumuman, selalu saja menemukan sisa-sisa kekecewaan atas apa yang sudah diusahakan. PPI Kota 2012, lomba baris berbaris pertama saya bersama dengan Tonti Bhawara, sang kakak 51. Usai pengumuman banyak air mata jatuh, yah effort selama persiapan tiba-tiba harus pupus setelah hasilnya keluar. Lomba baris bukan seperti lomba mata pelajaran yang ada standar pasti jawaban yang diinginkan. Oke ada patokan penilaian tapi semuanya kembali ke pandangan mata sang juri. PPI Kota 2015 tahun lalu, adik 53 yang habis-habisan usaha mengumpulkan kawan-kawannya untuk kembali tampil sebagai persembahan lomba terakhir ternyata harus gagal. Adiknya 54 berhasil meraih tropi, 53 dengan usahanya mengumpulkan pasukan ditengah intimidasi 'sudah kelas 9', 'persiapan UN', 'fokus belajar', 'LES' dan lain sebagainya. Dua komandan putri 53 saya jelas terlihat bagaimana kecewa beratnya dengan hasil terakhir yang seharusnya menjadi perpisahan yang manis layaknya kakaknya 52 tahun sebelumnya yang berhasil lolos ke Provinsi sebagai runner up PPI Kota 2014.

55 baru saja menyelesaikan lomba pertamanya dengan hasil yang masih belum memuaskan. Layaknya 51 pertama dan terakhir partisipasi lomba baris dengan hasilnya yang pas-pasan. Kecewa pasti karena dulu hanya ada satu kesempatan lomba, itupun khusus kelas 8, kelas 9 boleh dikata cukup berani untuk mengulang lombanya.

'maaf ya mas, maaf masih belum bisa menangin, maaf' komandan PASDIPTAMA live report hasil lomba di UII. Belum berhasil, hampir seperti biasa. Orang lain kadang hanya melihat hasilnya, entah apapun prosesnya hanya sedikit yang mengikuti. Buat saya kemarin mereka sudah bekerja keras, bermain semanis mungkin sebisa mereka. Para komandan yang saya yakin mereka berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan. Komandan yang harus memimpin pasukannya menuju akhir pos. Juara itu selalu dicari tapi proses menuju juara selalu menjadi seni tersendiri.

Hasil kadang sering menyesakkan tapi selalu kita dapatkan evaluasi untuk diri kita sendiri agar jauh makin lebih hebat dari apa yang kita dapatkan hari ini, mungkin hasil yang mengecewakan bisa jadi menjadi tolakan kita menuju sesuatu yang lebih besar. Kadang kita perlu sesekali terjatuh untuk harus belajar berdiri kembali dan berlari, bukan berlari tanpa rintangan.Y
akinlah nak pelatihmu juga ga tega liat anak-anaknya nangis atau paling tidak kecewa dengan hasil akhir. Apa boleh dikata, pleton dengan permainan paling cantik yang berhak juara. Usaha kalian jarang terlihat tapi saya tahu bagaimana kalian berproses. Masih banyak yang perlu diperbaiki, termasuk kami para pelatih yang kadang memang hanya bersuara saja.

Jangan pernah menangis sebelum bawa tropi, itu dulu pesan saya kepada anak-anak Bhawara 51.