Rabu, 23 November 2011, what a tired day . . .
Seperti biasa malam sebelumnya dengan badan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya saya pejamkan mata saya mendekati tengah malam. Maklum pulang malam lagi, dan esok pagi ada semacam hajatan, temen-temen sepekerjaan ibu datang ke rumah buat nengokin ponakanku yang baru berumur belum genap 30 hari. Terbangun dengan suara khas alarm HP saya, sudah dapat dipastikan ketika saya mendengar suara itu saya harus bangun, walau kebanyakan hanya mematikan alarm lalu tidur lagi. Pagi ini saya bangun agak awal, maklum kemarin rumah agak ribet gara-gara pada bangun siang. Adik aja mpe marah-marah gara-gara nungguin aku ga slese2.
Pagi ini saya tebus kesalahan saya, saya bangun lebih awal lanjut mandi dan meninggalkan adik saya yang belum siap apa-apa. Hingga akhirnya pukul 06.30 kami berangkat. Entah apa yang ada pada saya pagi ini, atau hanya seperti hal biasanya, tenang, tanpa emosi dan mengalir :P
Dan masih seperti biasa, saya hanya bisa bertahan 15 - 20 menit saja dalam perjalanan, sisanya, kelopak mata minta ditutup terus. Berat banget rasanya ni badan. Langsung menuju Lab, nongkrongin Lab lumayan dapet link macem-macem lah. Kuliah jam 9 masih dengan terkantuk-kantuk. Tapi hal biasa saya terkantuk-kantuk dalam kelas, udah terkenal tukang tidur juga. Bayangin aja, masa ujian juga bisa merem, buat aku mah whatever, yang penting saya tetap bertanggungjawab (Insyaalloh :P). Kuliah jam 11 ternyata kosong tanpa alasan yang jelas. Akhirnya saya putuskan kembali ke Lab karena ada kerjaan buat bantu-bantu pelatihan yang ada di Lab.
Saya keluar Lab mendahului peserta pelatihan dan teman-teman asisten instruktur lainnya untuk praktikum. Masih berat aja ni badan. Masuk Lab (Lab nya laen lagi), dan pre test. Masih saja dengan kondisi badan yang ngantuk ngerjain soal pre test, dari 3 kategori soal yang ada, 2 soal nomer 5 tidak saya jawab karena saya terhempas ke alam bawah sadar saya. Sampai-sampai teman sebelah saya harus menyadarkan saya.
Karena belum sholat Ashar, saya putuskan mampir dulu ke sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan. Dan cerita itu bermula disini,
Muncullah seorang (masih muda, semacam Exmud gitu), tanya deh ke aku ama temen-temen yang ada di dalem, "Ini sekretariat KM**P yaa?". Jawab kami dengan mantap iya. Ternyata mas-mas tadi adalah seorang mantan ketua KM**P. Langsung aja dipersilakan duduk dan mulai bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya dulu. Seorang aktivis organisasi yang mampu berprestasi, membuat suatu angkatan solid dengan belajar bersama. Dapet jodoh teman 1 angkatan dan menjadi orang yang pertama menikah di angkatan tersebut. Kok ya pas ada event yang butuh dukungan alumni dan beliau mampir, ternyata motivasi yang diberikan luar biasa. Baginya kesuksesan hari ini bukanlah tujuan hidup utamanya, masih ada tujuan lain yang ingin dicapai. Salah satu statemetnya adalah "Cerita Orang Sukses Itu Sudah Biasa, Itulah Mengapa Saya Menceritakan Kegagalan Saya".
Flashback dalam kehidupan saya, saya adalah salah satu orang gagal itu. Judgement beberapa orang disekitar saya hampir sebagian besar saya anggap adalah suatu hal yang menjatuhkan saya. Saya bersekolah di SMP Negeri 16 Yogyakarta (SMP urutan terakhir secara alfabet), lanjut SMA ke SMA Negeri 11 Yogyakarta yang sama-sama sekolah paling muda di Yogyakarta. Kemudian alhamdulillah dapet ketrima di UGM lewat jalur terakhir masuk S1 lewat SNMPTN. Bagi saya, pemikiran dulu adalah saya merupakan orang paling akhir, dan terbiasa dengan urutan-urutan belakang. Saya gagal masuk ke SMP Negeri 2 Yogyakarta karena yah orang tua mendaftarkan saya di SMP itu, mengapa saya ingin SMP Negeri 2 Yogyakarta? karena beberapa teman saya mendaftarkan dirinya kesana. Alasan logis mengapa saya ke SMP Negeri 16 karena sekolah ini dekat dengan tempat Bapak bekerja dan sekalian aja ntar berangkatnya bareng soalnya arahnya sama. SMA N 11 Yogyakarta saya masuki karena saya gagal masuk ke SMA N 7 Yogyakarta karena nilai yang kurang, bayangkan saja hanya kurang 15 menit nama saya sudah hilang di urutan pendaftaran OnLine. UM UGM dengan UTULnya kembali memaksa saya bekerja lebih keras. Saya tidak diterima dan saya harus kembali bekerja lebih keras untuk mendaftar ke UGM dengan jalur lain.
Saya adalah orang GAGAL yang bersemangat tinggi, mungkin itu moto saya. Banyak hal yang dapat saya ambil dari banyak kegagalan saya. Ada semacam pikiran positif ketika saya menjumpai beberapa kegagalan seperti di atas, mungkin Alloh punya skenario yang lebih baik untuk kita. Salah satu teman kuliah saya pernah berkata "Kita ini menghabiskan jatah kerja keras kita sekarang untuk menjemput kebahagiaan kita di akhir, jangan patah semangat lah". Yah itu beberapa motivasi yang masih saya simpan sampai saat ini.
Kembali ke masa SMP, ternyata alhamdulillah saya masuk kelas C yang dari cerita kakak kelas yang dulu (termasuk kakak kandung saya), kelas C adalah kelas unggulan. Kemudian kami saat itu juga menggagas ekstrakulikuler KIR yang digawangi oleh mayoritas kelas C. Jadi ekstrakulikuler KIR tak ubahnya kelas C yang pindah tempat di Lab. Walau ketika lulus saya tidak masuk ke golongan lulusan terbaik, namun ada sekitar 5 orang dari kelas C yang masuk lulusan terbaik, tetap bangga saya :).
Masuk masa SMA, boleh dikatakan banyak pengalaman yang saya dapatkan, entah itu kerja keras, kerja sama, capek, males, mbolos sampai bonusnya juga saya pernah dapatkan, CINTA, istimewa dah kalo sampe dapet tu bonus. Di SMA saya bukan termasuk golongan intelektual atas, ada banyak teman-teman saya yang kritis. Saya menjadi salah satu orang yang merumuskan revolusi ROHIS, semacam organisasi kerohanian yang membidangi agama ISLAM. Tak hanya itu, walau hanya anggota OSIS yang tiap tahun harus mendaftarkan diri agar masuk ke pengurusan, saya mempunyai link ke birokrasi sekolah bersama-sama teman OSIS dan MPK. Tak berhenti di situ, saya juga menjadi pengibar bendera Merah Putih selama 2 tahun berturut-turut di SMA, belum lagi menjabat sebagai Ketua Umum dan Ketua Pelaksana di 2 event utama di SMA saya yang jaraknya hanya berselisih 3-4 hari saja. Kesibukan yang beberapa orang tidak bisa mentolerir. Anggapan saya terlalu sibuk sering muncul, tapi saya selalu berfikir bahwa semua kesibukan ini ada manfaatnya, TAPI TIDAK SEKARANG, one day pasti datang masa itu.
Masuk kuliah saya awali dengan kegagalan. Kerja saya kurang keras ternyata. Alhamdulillah ada bantuan dari temen sehingga saya bisa les intensif selama 1 bulan untuk persiapan. Masuk ke pilihan 2 bukan hal yang bisa saya banggakan dulu, pikiran saya saat itu adalah yang penting UGM. Saya tidak boleh kalah dengan 2 kakak kandung saya yang sudah ALUMNI UGM. Alhamdulillah saya masih bisa melanjutkan tradisi keluarga saya untuk meneruskan studi ke UGM.
Banyak hal yang saya tangkap dari pengalaman hidup saya. Kegagalan adalah suatu hal yang luar biasa. Karena dengan gagal kita mendapat pengamalan, seperti dalam tag line sebuah buku tulis "experience is the best teacher", pengalaman adalah guru terbaik. Ga usah takut salah karena dengan salah kita bisa tahu manakah yang benar dari semua yang kita pernah alami. Kita semua belajar di dunia ini, berjuanglah untuk hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar