3 Oktober 2013

Koruptor vs Tukang Sampah

Sensus penduduk Indonesia terakhir tercatat 230 juta manusia tersebar di Indonesia. Entah berapa yang petani, berapa yang pejabat, berapa yang maling, berapa yang pemulung, yang pasti ada 33 Gubernur, 1 Presiden dan 1 Wakil Presiden.
Banyak manusia sama saja dengan banyak sampah. Itung aja dalam sehari tiap orang produksi 250 gram sampah lah, berarti tiap hari Indonesia nyumbang 575.000.000 kg sampah. Setengah dari jumlah impor beras indonesia yang jumlahnya 1 juta TON beras. Tapi belum tentu semua orang produksi sampah juga sih, itu itungan "bodon" aja. Mungkin lebih, sampah industri belum diitung juga lo.
Masih ada satu lagi tren yang berkembang di Indonesia, koruptor yang minta ampun ga pernah punya kapok meski udah banyak yang diproses. Atau kalau enggak mereka punya panutan koruptor senior yang dengan mudahnya nyuap hakim untuk menentukan putusan. Kasus terakhir pagi ini Ketua MK ketangkap tangan sedang menerima suap, nah lo!

6 September 2012

6 September 2012

Terakhir posting tanggal 30 Januari 2012 . . ., stetoskop itu masih dipakai kakak saya :)
Terlewatkan 8 bulan dan saya bersama teman-teman sudah berhasil melahirkan Bank Sampah 56. Sebuah konsep pengelolaan lingkungan sederhana yang dikelola oleh pemuda. Kalau kemarin teman saya posting di FB bahwa ada yang lulus kuliah langsung jadi direktur, yah itu mah kalah hebat dengan saya dan teman-teman, ini belum lulus kuliah udah jadi CEO Bank coba, kerenan mana hayooo? :D

Resmi dibuka bulan April berarti sudah ada sekitar 5 bulan Bank Sampah 56 ini berjalan. Bermodal 1 timbangan dapur, 1 timbangan gantung, meja mushola, tikar mushola dan beberapa alat yang didapat dari sampah yang dibuang seperti nota bekas, keranjang plastik bekas, kardus dan banyak sampah lainnya. Berbasis tanggung jawab sosial, konsep Bank Sampah 56 menggunakan sistem timbal balik. Artinya sampah yang disetor akan dikembalikan dalam bentuk uang kepada nasabah. berbeda dengan dulu pengumpulan modal Bank Sampah 56 yang kami harus merampok sampah warga, menjualnya dan uangnya jadi modal untuk membangun Bank Sampah 56.

Perumahan Sedayu Permai A1 nomer 4, sebuah rumah milik Bapak Harun yang belum ditinggali menjadi basecamp kami, 1 kamar kami gunakan untuk menjadi gudang sampah. Sampah yang disetor tiap hari minggu dipisahkan berdasar jenis dan kesamaan bentuknya dalam 1 karung plastik. Terhitung penjualan sampah meningkat dari waktu ke waktu. Bulan lalu sudah dilakukan pencairan karena memang komitmen kami akan melakukan pencairan uang setiap 3 bulan sekali. Hanya saja kami kekurangan armada untuk menjual sampah. Memang kami belum bisa berhasil mengolahnya, kami hanya menjual ke pengepul, tapi tak apa lah kami akan berusaha lebih keras lagi untuk Bank Sampah kami ini,

see you next post . . .
regards
tukang sampah amatiran

30 Januari 2012

Suara Adzan Maghrib Itu Terdengar di Stetoskop Saya ?

Q : Stetoskop? Apa-apaan mosok Tukang Sampah maenan stetoskop?
Ngimpi jadi dokter mah iya mungkin,
A : Yah lagi males aja maenan gerobak sampah terus dari kemarin #sok

20 Januari 2012

Salah Siapa Coba?

Kembali dengan permasalahan sampah, lama juga ga nulis di blog, maklum sibuk dengan urusan-urusan dunia nyata :P

(mungkin) Dua minggu sudah berlalu dari pengangkutan sampah terakhir mbah Samidjo. Mbah Samidjo, seorang wanita, tukang sampah tanpa gerobak yang selalu memikul sampah-sampah yang harus ia kumpulkan. Pas saat itu saya diluar untuk menyapu halaman, halaman yang kumuh dengan sampah daun belimbing, belimbing busuk, jambu busuk dan kawan-kawannya yang berserakan di sana sini. Sangat kumuh untuk sebuah pemukiman padat penduduk di sebuah bukit di antara desa-desa. Sangat kontras dengan rumah lain yang sudah banyak hilang tanaman-tanamannya, kalo boleh dikata sudah mirip belantara. Keluarlah saat itu beberapa ibu-ibu, ya maklum lah dengan kebiasaan ibu-ibu rumah tangga perumahan di sore hari, nggosip

23 November 2011

Cerita Orang Sukses Itu Sudah Biasa, Itulah Mengapa Saya Menceritakan Kegagalan Saya

Rabu, 23 November 2011, what a tired day . . .
Seperti biasa malam sebelumnya dengan badan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya saya pejamkan mata saya mendekati tengah malam. Maklum pulang malam lagi, dan esok pagi ada semacam hajatan, temen-temen sepekerjaan ibu datang ke rumah buat nengokin ponakanku yang baru berumur belum genap 30 hari. Terbangun dengan suara khas alarm HP saya, sudah dapat dipastikan ketika saya mendengar suara itu saya harus bangun, walau kebanyakan hanya mematikan alarm lalu tidur lagi. Pagi ini saya bangun agak awal, maklum kemarin rumah agak ribet gara-gara pada bangun siang. Adik aja mpe marah-marah gara-gara nungguin aku ga slese2.